TIMIKA, PENAPAPUA.com
Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Mimika menggelar Forum Konsultasi Publik dari masa ke masa dengan tema “Tantangan, Dinamika, dan Strategi Pengelolaan Pendapatan Daerah yang Akuntabel, Pruden dan Berdampak”, yang dilaksanakan di lantai III, Kantor Bapenda, pada Jumat (31/7/2026).
Pada kegiatan ini, turut hadir mantan pejabat Bapenda yakni Petrus Yumte, Cherly Lumenta,
Paulus Yanengga dan Dr. Drs. Dwi Cholifah.
Selain itu, Wakil Ketua Komisi II DPRK Mimika Mariunus Tandiseno, perwakilan Samsat, BUMD/BUMN, serta seluruh staf Bapenda Mimika.
Perlu diketahui bahwa Petrus Yumte S.H., M.Si. menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah sejak Tahun 2009 s/d 2013 dan kemudian dilanjutkan oleh Cherly Lumenta S.E., M.Si dari Tahun 2013 hingga 2015.
Selanjutnya Paulus Yanengga S.H., M.Si menjabat sebagai Kepala Dinas sejak Tahun 2015 s/d 2017 (Pada Tahun 2016 terjadi perubahan nama dari Dispenda ke Bapenda) dan terakhir Dr. Drs. Dwi Cholifah, Ap., M.Si menjabat sebagai Kepala Badan sejak Tahun 2016 s/d pertengahan 2026.
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Mimika, Petrus Pali Ambaa mengapresiasi kegiatan ini yang dimana menghadirkan narasumber yang pernah memimpin Bapenda.
Dengan hadirnya narasumber ini, kata dia, dapat memberikan masukan dan saran untuk bagaimana meningkatkan PAD Mimika.
“Kita tahu bersama bahwa saat ini memang sektor pendapatan terbesar masih dari PTFI. Namun, ketika PTFI sudah tidak beroperasi bagaimana? Nah, oleh sebab itulah tugas kita di bagian retribusi dan pajak daerah untuk kedepannya bagaimana kita menggali sumber-sumber baru maupun sumber-sumber yang ada ini untuk kita bisa tingkatkan sehingga ke depan pendapatan daerah kita semakin meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Bapenda Mimika, Slamet Sutejo mengatakan, perjalanan kepemimpinan ini adalah sebuah estafet.
Ada pepatah mengatakan setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya. Namun satu hal yang tidak boleh terjadi benang itu tidak boleh terputus.
“Janganlah yang baru datang merasa paling mampu, dan jangan pula yang lama merasa tidak relevan,” katanya.
Slamet mengaku, sejak dirinya masuk ke Bapenda, ia menyadari bahwa semua ini membutuhkan pengalaman panjang para senior, yang mungkin tidak terbiasa dengan sistem digital namun memahami seluk-beluk akar persoalan di saat yang sama juga membutuhkan kecepatan dan ketangkasan yang dituntut oleh perkembangan zaman.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi luar biasa besar. Dulu, di masa bapak Paulus dan para pendahulu lainnya, anggaran daerah mungkin baru puluhan miliar rupiah.
“Bayangkan dari angka 80 miliar, kini menjadi triliun. Intinya sederhana, ketika nilainya besar, dampaknya harus terasa nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bapenda Mimika Dwi Cholifah periode 2016 sampai pertengahan 2026 mengajak para pegawai Bapenda untuk senantiasa membangun koordinasi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan.
Kepala Badan diharapkan dapat menjalin komunikasi dengan BPN, KPP Pratama, kalangan notaris dan PT Freeport Indonesia dengan pertemuan rutin.
Dirinya mengaku, ketika menyerahkan amanah ini dalam kondisi perhitungan yang menunjukkan angka defisit yang cukup besar. Artinya, dalam kondisi defisit ini, harus melakukan efisiensi belanja sekaligus terus mencari sumber pendapatan tambahan.
“Oleh sebab itu, kita tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, melainkan harus tetap bergerak sebagai satu kesatuan yang terorganisir ke depannya,” pungkasnya. (Redaksi)














