Posyandu Anggrek Limau Asri Timur Ikuti Lomba, Kader di Mimika Diuji Layani Semua Usia

TIMIKA, PENAPAPUA.com

Lomba Posyandu Tingkat Kabupaten Mimika 2026 tidak sekadar mencari posyandu terbaik. Penilaian tahun ini sekaligus menguji kesiapan kader menghadapi perubahan sistem pelayanan yang kini mencakup seluruh siklus kehidupan masyarakat, dari ibu hamil hingga lanjut usia.

Ungu Dan Putih Modern Jasa Pembuatan Website Facebook Ad 20260323 184827 0000.jpg scaled

Ketua Tim Penilai Lomba Posyandu Kabupaten Mimika, Alice Wanma, mengatakan penilaian dilakukan bersama Tim Penggerak PKK, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung dan Adat, serta sejumlah unsur Dinas Kesehatan. Sebanyak 10 posyandu yang tersebar di Kabupaten Mimika menjadi peserta penilaian.

Penilaian berlangsung sejak 31 Agustus dan berakhir pada Rabu, 2 September 2026, di Posyandu Anggrek, Kampung Limau Asri Timur, Distrik Iwaka. Tim penilai melihat langsung pelaksanaan pelayanan serta kemampuan kader menjalankan sistem lima langkah Posyandu.

“Dulu kita hanya mengenal sistem lima meja. Sekarang pelayanan Posyandu mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, bayi, anak, remaja, usia produktif sampai lansia,” kata Alice.

Menurut dia, perubahan sistem tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kader. Mereka tidak hanya dituntut mampu melakukan pelayanan dasar kepada bayi dan balita, tetapi juga memahami kebutuhan kesehatan kelompok usia lainnya.

Alice mengatakan kader Posyandu di Mimika telah mendapatkan pembinaan dari Dinas Kesehatan melalui puskesmas, termasuk pelatihan dan peningkatan kompetensi dasar. Karena itu, ia optimistis kader mampu mengikuti perubahan sistem pelayanan tersebut.

Ke depan, kata Alice, Posyandu juga diarahkan menjalankan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang melibatkan sejumlah perangkat daerah. Konsep ini membuat Posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga pintu awal bagi masyarakat memperoleh layanan lintas sektor.

Ia memberi contoh, ketika kader menemukan warga yang mengalami stroke dan membutuhkan kursi roda, informasi tersebut dapat diteruskan kepada perangkat daerah terkait untuk mendapatkan bantuan.

“Jadi kader bukan hanya melihat kesehatan, tetapi juga bisa menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan dinas terkait,” ujarnya.

Alice menilai keberadaan kader sangat penting karena mereka berada paling dekat dengan masyarakat. Keterbatasan pendidikan maupun kondisi geografis, termasuk wilayah pesisir, menurut dia, tidak semestinya menjadi penghalang selama kader memiliki kemauan untuk belajar dan melayani.

“Posyandu itu salah satu pelayanan paling kecil yang ada di kampung. Karena itu harus ada dan harus berjalan,” katanya.

Kader Jadi Penentu

Kepala Kampung Limau Asri Timur, Adi Prasetyo, mengatakan pihaknya awalnya tidak mengetahui kampung tersebut akan mewakili wilayahnya dalam lomba. Informasi diterima dari ibu-ibu PKK setelah Kampung Limau Asri Timur dipercaya mewakili tujuh kampung untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten.

Adi mengatakan lomba justru menjadi pemicu bagi kader untuk meningkatkan semangat pelayanan.

“Kami bersyukur dengan adanya penilaian ini semangat ibu-ibu kader semakin maksimal. Kenyataannya memang mereka sangat bersemangat,” kata Adi.

Ia menegaskan, hasil lomba bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bagi pemerintah kampung, yang lebih penting adalah memastikan pelayanan Posyandu benar-benar berjalan dan dirasakan masyarakat.

“Juara atau tidak itu urusan nanti. Yang penting kami sudah menunjukkan kegiatan nyata di lapangan bahwa pelayanan kepada masyarakat melalui Posyandu berjalan dengan sangat baik,” ujarnya.

Kampung Limau Asri Timur, kata Adi, telah dua kali mengikuti kegiatan lomba Posyandu. Tahun sebelumnya, Posyandu Anggrek meraih predikat harapan pertama. Pengalaman tersebut menjadi motivasi bagi kader untuk kembali mengikuti penilaian tahun ini.

Adi berharap hasil terbaik dapat diraih. Namun ia mengatakan partisipasi dalam lomba juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi pelayanan sekaligus mendorong kader agar terus meningkatkan kemampuan.

Tim penilai selanjutnya akan merekap seluruh hasil penilaian dari 10 posyandu peserta sebelum menentukan juara. Alice berharap posyandu yang dinilai mampu mempertahankan pelayanan setelah lomba berakhir, sebab ukuran keberhasilan sebenarnya bukan pada piala, melainkan konsistensi kader melayani masyarakat.
(Redaksi)

banner 728x250

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *