TIMIKA, PENAPAPUA.com
Suara tifa menggema di pelataran Gedung Eme Neme Yauware, Kamis (2/7/2026), menandai dibukanya Timika Inside Festival of Art (TIFA) VI Tahun 2026. Selama tiga hari ke depan, festival ini tak hanya menyuguhkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang bertemunya para seniman, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam semangat merayakan kekayaan budaya Papua.
Pembukaan festival dilakukan oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, yang mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob.
Dalam sambutannya, Fransiskus mengatakan TIFA telah berkembang menjadi lebih dari sekadar festival seni. Menurutnya, ajang yang kini memasuki penyelenggaraan keenam itu menjadi wadah mempererat persaudaraan, melestarikan budaya, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
“TIFA bukan hanya panggung pertunjukan seni, tetapi juga ruang untuk memperkuat persatuan, menjaga warisan budaya, dan mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif di Mimika,” katanya.
Mengusung tema “Bernada dalam Gerak, Menebus Irama dan Mengukir Prestasi”, TIFA 2026 diharapkan melahirkan kreativitas baru sekaligus memberi ruang bagi para pelaku seni untuk terus berkarya.
Fransiskus menilai Mimika memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari keberagaman suku, bahasa, tarian, musik tradisional, hingga kerajinan tangan yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
Menurutnya, festival seperti TIFA menjadi etalase yang memperlihatkan wajah budaya Mimika kepada publik.
Tak hanya itu, penyelenggaraan festival juga diyakini membawa dampak ekonomi. Kehadiran peserta dan pengunjung dari berbagai daerah diperkirakan ikut menggerakkan usaha masyarakat, mulai dari UMKM, kuliner, pengrajin, transportasi hingga perhotelan.
“Pembangunan daerah tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga bagaimana kita memperkuat identitas budaya dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.
Sementara itu, Founder TIFA, Alfo Smith Kutanggas, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan. Salah satunya dengan memperluas keterlibatan UMKM dan menghadirkan pameran budaya dari sejumlah kabupaten di Papua melalui Dekranasda.
“Tahun ini memang sedikit berbeda. Kami tidak hanya menghadirkan perlombaan seni, tetapi juga melibatkan UMKM agar manfaat ekonominya bisa dirasakan masyarakat lebih luas,” kata Alfo.
Sebanyak 137 peserta mengikuti berbagai cabang lomba seni selama festival berlangsung. Mereka akan menampilkan tari kreasi, tari Nusantara, hingga pertunjukan budaya yang dinilai oleh dewan juri dari Jayapura, Bali, dan Jakarta.
Selain pertunjukan seni, pengunjung juga dapat menyaksikan Papua Family Fashion Show yang menampilkan busana bernuansa budaya Papua dari berbagai kelompok usia.
Di sisi lain, sekitar 30 pelaku UMKM dari Mimika, Deiyai, dan Puncak ikut memamerkan aneka produk kerajinan, kuliner, serta hasil ekonomi kreatif lainnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, TIFA 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang promosi budaya Papua, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus daya tarik wisata yang mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung ke Mimika.
(Redaksi)














