Warga Nduga: Sopir Aris Sanda Bukan Musuh, Dia Bawa Kehidupan

TIMIKA, PENAPAPUA.com

Kematian Aris Sanda, sopir lajuran yang ditembak di kawasan Habema, Papua Pegunungan, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Kabupaten Nduga.

Ungu Dan Putih Modern Jasa Pembuatan Website Facebook Ad 20260323 184827 0000.jpg scaled

Di depan sekolah anak-anak mereka di pegunungan, masyarakat dari tiga distrik di Kabupaten Nduga berkumpul. Mereka tidak datang untuk sebuah upacara. Mereka datang membawa kesedihan sekaligus pesan agar penembakan terhadap sopir dihentikan.

“Hari ini kami duduk di tanah, di depan sekolah anak-anak kami di gunung. Kami bukan duduk karena upacara, kami duduk karena hati kami sakit,” kata masyarakat dalam pernyataan duka, Rabu (16/9/2026).

Bagi warga Nduga, Aris bukan sekadar sopir asal Toraja. Selama bertahun-tahun, ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan tersebut.

“Sopir itu bukan orang Toraja saja, bukan pendatang saja. Bagi kami masyarakat kecil di Nduga, dia sudah seperti orang Nduga,” ujar mereka.

Aris selama ini mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat. Ia membawa makanan, mengantar mama-mama yang hendak berjualan, serta membawa anak-anak dari Wamena menuju Nduga.

“Sudah berapa tahun dia layani kami, bawa makanan kami, bawa mama-mama jualan, bawa anak-anak kami dari Wamena ke Nduga dengan selamat,” kata warga.

Karena itu, kematian Aris tidak hanya dirasakan keluarganya di Toraja. Masyarakat Nduga menyebut kehilangan tersebut sebagai duka mereka sendiri.

“Anak-anak sekolah menangis, mama-mama menangis, bapa-bapa tunduk kepala. Kami rasa kehilangan paling dalam,” kata mereka.

Warga Minta Jangan Tembak Sopir

Masyarakat Nduga kemudian menyampaikan pesan terbuka kepada kelompok bersenjata yang mereka sebut sebagai OPM.

Mereka meminta penembakan terhadap sopir dihentikan. Menurut warga, sopir yang melintas di jalur Wamena-Nduga bukanlah pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata.

“Stop sudah, jangan sembarang tembak sopir. Sopir itu bukan musuh. Dia tidak bawa senjata. Dia bawa kehidupan untuk kami di Nduga,” ujar masyarakat.

Mereka meminta setiap persoalan tidak langsung diselesaikan dengan kekerasan.

“Kalau ada masalah, tanya dulu, lihat bukti dulu, jangan langsung tembak orang tidak bersalah,” kata mereka.

Bagi masyarakat, kematian seorang sopir memiliki dampak jauh lebih luas. Ketika sopir ditembak, akses masyarakat terhadap kebutuhan sehari-hari ikut terganggu.

“Setiap peluru yang kena sopir, yang luka itu hati kami masyarakat Nduga juga,” ujar mereka.

Masyarakat berharap jalur Wamena-Nduga kembali menjadi jalur yang aman bagi warga, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan dan masyarakat yang bergantung pada transportasi darat.

“Kami masyarakat Nduga mau hidup damai, mau anak-anak sekolah aman, mau jalan Wamena-Nduga aman. Jangan tambah air mata lagi di atas tanah ini,” kata mereka.

Mereka juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Aris Sanda di Toraja.

“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk keluarga almarhum Sopir Aris Sanda. Semoga Tuhan beri kekuatan buat keluarga yang ditinggalkan di Toraja sana. Doa kami dari pegunungan Nduga menyertai kalian,” demikian pernyataan masyarakat.

Masyarakat menutup pernyataan itu dengan satu harapan: “Tuhan tolong Nduga.”
(Redaksi)

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *